Zona Narasi – Kondisi pasar properti nasional pada 2026 dinilai belum sepenuhnya pulih, mendorong sejumlah emiten untuk memasang target prapenjualan (marketing sales) secara lebih konservatif. Strategi ini diambil sebagai respons terhadap berbagai tantangan, baik dari sisi global maupun domestik yang masih membayangi sektor tersebut.
Sejumlah pelaku industri menilai bahwa pemulihan pasar properti memang mulai terlihat, namun belum cukup kuat untuk mendorong ekspansi agresif. Tekanan daya beli masyarakat, suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang relatif tinggi, serta ketidakpastian ekonomi global menjadi faktor utama yang menahan laju pertumbuhan.
Berdasarkan laporan terbaru, beberapa emiten properti besar memilih pendekatan hati-hati dalam menetapkan target bisnis tahun ini. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), misalnya, menetapkan target prapenjualan sebesar Rp4,3 triliun pada 2026, relatif stagnan dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Pendekatan ini mencerminkan strategi realistis di tengah dinamika pasar yang belum sepenuhnya stabil.
Direktur utama perusahaan tersebut menyebut bahwa keputusan menetapkan target konservatif didasarkan pada pertimbangan kondisi geopolitik dan ekonomi global yang masih fluktuatif. Selain itu, komposisi penjualan juga difokuskan pada segmen residensial dan komersial yang dinilai lebih stabil dalam situasi saat ini.
Langkah serupa juga diambil oleh PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), yang menargetkan prapenjualan sebesar Rp563 miliar pada 2026. Meski secara persentase terlihat meningkat dibanding tahun sebelumnya, target tersebut tetap mencerminkan pendekatan yang terukur dengan mempertimbangkan daya serap pasar.
Analis pasar menilai bahwa strategi konservatif ini merupakan langkah yang rasional. Pasalnya, permintaan properti masih menghadapi tantangan nyata, terutama dari sisi pembiayaan dan psikologis konsumen yang cenderung menunda pembelian. Tingginya suku bunga KPR membuat biaya cicilan meningkat, sementara investor masih bersikap wait and see terhadap arah ekonomi ke depan.
Di sisi lain, faktor global turut memberi tekanan tambahan. Konflik geopolitik, inflasi, serta ketidakpastian pasar keuangan internasional berdampak pada stabilitas ekonomi domestik. Kondisi ini berimbas pada sektor properti yang sangat bergantung pada daya beli dan kepercayaan konsumen.
Platform properti digital juga mencatat bahwa pasar masih berada dalam fase penyesuaian pada awal 2026. Harga properti di sejumlah wilayah belum sepenuhnya pulih, sementara aktivitas transaksi masih fluktuatif.
Meski demikian, bukan berarti prospek sektor ini suram. Sejumlah indikator menunjukkan adanya peluang pemulihan secara bertahap. Permintaan rumah di beberapa daerah mulai meningkat, terutama di wilayah yang didukung oleh pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan industri baru.
Selain itu, kebijakan pemerintah seperti insentif pajak dan potensi penurunan suku bunga di masa mendatang dapat menjadi katalis positif bagi industri properti. Jika kondisi ekonomi makro membaik, daya beli masyarakat berpotensi meningkat, sehingga mendorong penjualan properti secara lebih signifikan.
Namun, pelaku industri tampaknya tidak ingin mengambil risiko terlalu besar. Pengalaman tahun sebelumnya, di mana sejumlah emiten gagal mencapai target penjualan, menjadi pelajaran penting untuk lebih realistis dalam menyusun strategi bisnis.
Pengamat menilai bahwa perbedaan target antar emiten juga dipengaruhi oleh fase bisnis masing-masing. Perusahaan yang telah memiliki basis proyek besar dan matang cenderung menetapkan target yang stabil, sementara perusahaan yang masih dalam tahap ekspansi berani memasang target pertumbuhan lebih tinggi meski tetap berhati-hati.
Selain itu, fokus pada recurring income atau pendapatan berulang juga menjadi strategi penting untuk menjaga kinerja keuangan. Pendapatan dari sewa, pengelolaan kawasan, dan fasilitas komersial dinilai lebih stabil dibandingkan penjualan unit properti yang sangat bergantung pada kondisi pasar.
Ke depan, sektor properti diperkirakan masih akan bergerak dalam fase konsolidasi. Pemulihan diprediksi terjadi secara bertahap, seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi dan meningkatnya kepercayaan konsumen.
Dengan demikian, strategi konservatif yang diambil emiten bukan hanya bentuk kehati-hatian, tetapi juga upaya menjaga keberlanjutan bisnis di tengah ketidakpastian. Target yang realistis diharapkan dapat lebih mudah dicapai, sekaligus memberikan sinyal positif bagi investor terhadap stabilitas kinerja perusahaan.
Meski tantangan masih ada, peluang tetap terbuka. Jika didukung oleh kebijakan yang tepat dan kondisi ekonomi yang membaik, sektor properti berpotensi kembali menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan.

