Jakarta, ZonaNarasi.Com – Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi global. Kali ini, Trump kabarkan mengancam pengenaan tarif ekonomi terhadap negara-negara yang menolak rencana Amerika Serikat untuk menguasai Greenland. Pernyataan tersebut langsung menuai reaksi keras dari berbagai pihak dan membuka kembali perdebatan lama soal kepentingan geopolitik AS di wilayah Arktik.
Greenland, wilayah otonom yang berada di bawah Kerajaan Denmark, sejak lama anggap strategis karena kekayaan sumber daya alam dan posisinya yang vital secara militer. Trump sebelumnya pernah menyatakan ketertarikannya terhadap Greenland, dan isu ini kembali mencuat seiring pernyataan terbarunya.
Latar Belakang Ambisi AS terhadap Greenland
Ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland bukanlah hal baru. Wilayah ini nilai memiliki cadangan mineral langka, potensi energi besar, serta posisi strategis dalam pertahanan global, khususnya di kawasan Arktik.
Trump menilai bahwa penguasaan Greenland akan memperkuat keamanan nasional dan kepentingan ekonomi AS. Dalam pernyataannya, ia menyebut bahwa negara-negara yang menghambat atau menentang rencana tersebut dapat kenai tarif perdagangan sebagai bentuk tekanan politik dan ekonomi.
Ancaman tarif ini mengingatkan publik pada gaya diplomasi Trump sebelumnya, yang kerap menggunakan kebijakan dagang sebagai alat negosiasi. Pendekatan ini nilai efektif oleh pendukungnya, namun juga anggap agresif dan berisiko memperburuk hubungan internasional.
Reaksi Global dan Dampak Geopolitik
Pernyataan Trump langsung memicu reaksi dari komunitas internasional. Denmark menegaskan bahwa Greenland bukan objek jual beli dan memiliki hak menentukan masa depannya sendiri. Sejumlah negara Eropa juga menyuarakan kekhawatiran atas potensi eskalasi konflik diplomatik.
Pengamat hubungan internasional menilai ancaman tarif tersebut dapat berdampak luas terhadap stabilitas perdagangan global. Negara-negara yang memiliki hubungan dagang erat dengan AS berpotensi terkena imbas jika konflik ini berkembang menjadi perang tarif.
Di sisi lain, sebagian analis menilai pernyataan Trump lebih bersifat strategi politik untuk menarik perhatian dan menunjukkan ketegasan menjelang agenda politik tertentu. Meski demikian, wacana ini tetap dianggap serius karena menyangkut kedaulatan wilayah dan hukum internasional.
Jika ancaman tarif benar-benar direalisasikan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara yang terlibat langsung, tetapi juga oleh pasar global. Ketegangan geopolitik di kawasan Arktik berpotensi memicu perlombaan pengaruh antara kekuatan besar dunia.

